Bersalaman Dengan Perempuan Non-Mahram

 

Bersalaman diantara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sudah menjadi hal yang jamak dilakukan.

 

Bukan hanya oleh orang yang masih awam,

 

akan tetapi dilakukan juga oleh orang-orang yang dipandang memiliki keilmuan di dalam agama ini.

 

Lalu bagaimana pandangan madzhab yang Empat di dalam hal ini?

 

Abul Hasan Ali bin Abu Bakr Al-Marghinani (Madzhab Hanafi) berkata,

 

“Seorang laki-laki tidak diperbolehkan menyentuh wajah atau telapak tangan seorang wanita, walaupun ia merasa aman dari syahwat.” (Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah, IV/83)

 

Abul Walid Al-Baji (Madzhab Maliki) berkata,

 

“Maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan kaum wanita’ adalah telapak tangan beliau tidak menyentuh telapak tangan mereka. Hal itu karena pembai’atan kaum laki-laki dilakukan dengan berjabatan tangan. Lalu Nabi melarang berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram), karena adanya unsur persentuhan kulit di dalamnya.” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatha’, 7/308)
An-Nawawi (Madzhab Syafi’i) berkata,

 

“Setiap orang yang kita haram untuk memandang wajahnya, niscaya haram pula untuk menyentuh kulitnya, bahkan menyentuh itu lebih kuat larangannya.

 

Sesungguhnya seorang laki-laki diperbolehkan memandang wanita yang bukan mahram jika ia ingin menikahinya, atau dalam kondisi berjual-beli, mengambil barang, memberikan barang, dan lain sebagainya.

 

Namun tidak boleh menyentuh kulitnya dalam semua kondisi tersebut.” (Al-Adzkar An-Nawawiyah, hlm. 228)

 

Muhammad bin Abdullah bin Mihram meriwayatkan bahwa Imam Ahmad (Madzhab Hanbali) dengan tegas melarang seorang laki-laki berjabatan tangan dengan seorang wanita yang bukan mahram, meskipun laki-laki itu mengenakan sarung tangan.

 

Ibnu Muflih mengatakan, “Seorang wanita bersalaman dengan seorang wanita. Seorang laki-laki boleh bersalaman dengan laki-laki dan wanita yang telah tua renta. Namun ia haram berjabat tangan dengan wanita muda, demikian ditegaskan dalam kitab Al-Fushul dan Ar-Ri’ayah.” (Al-Adab Asy-Syar’iyah, 2/257)

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?