Hadiah dan Suap, Apa Bedanya?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah bersabda,

 

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan kebencian yang ada dalam dada. Janganlah seorang wanita meremehkan arti suatu hadiah yang ia berikan kepada tetangganya, walau hanya berupa kaki (kikil) kambing.” (HR. At-Turmudzi).

 

Hadits ini menganjurkan kepada kita untuk saling memberi hadiah agar tercipta suatu kedekatan hubungan yang harmonis.

 

 

Namun hal yang mulia ini akan menjadi masalah jika pemberian hadiah tersebut ditujukan kepada seorang pejabat pemerintah atau pelaksana tugas.

 

Sebab pemberian yang seperti ini bisa menyebabkan kita terjerumus pada praktek suap-menyuap.

 

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan,

 

“Semoga laknat Allah menimpa penyuap dan penerima suap.” (HR. Ibnu Majah)

 

Lalu bagaimana cara kita membedakan pemberian yang berupa hadiah dengan pemberian yang menjadi suap?

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas seseorang untuk memungut zakat.

 

Di dalam tugas ini, orang tersebut ternyata menerima “hadiah” dari penyetor zakat. Maka orang ini kemudian menyerahkan hasil zakatnya dan menyimpan hadiah yang diberikan untuknya.

 

Menanggapi hal ini Rasulullah langsung berkata,

 

“Mengapa engkau tidak duduk-duduk saja di rumah ayah dan ibumu, lalu lihatlah adakah engkau mendapatkan hadiah atau tidak?”

 

Maksudnya, seandainya orang tadi tidak diberi tugas sebagai pemungut zakat,

 

apakah ia akan tetap menerima hadiah tersebut?

 

Sepertinya tidak.

 

Maka jika ini yang terjadi, inilah yang disebut dengan suap.

 

Lebih lanjut, Rasulullah juga telah memberikan batasan yang jelas mengenai perbedaan definisi suap ini.

 

“Barang siapa yang kami limpahi tugas atas suatu pekerjaaan, hendaknya ia menyerahkan semua yang ia peroleh, sedikit ataupun banyak.

 

Selanjutnya imbalan apa pun yang (kami) berikan kepadanya atas pekerjannya itu, silahkan ia ambil. Sedangkan segala yang ia dilarang darinya hendaknya ia tidak mengambilnya.” (HR. Muslim)

 

Jadi kesimpulannya, hadiah adalah suatu pemberian dengan tanpa embel-embel apapun. Ia murni karena faktor sosial.

 

Sedangkan pemberian apapun yang terkait dengan jabatan atau tugas yang diembannya, maka itu adalah suap.

 

Wallahu a’lam.

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?