Haramkah Pemberian dari Hasil Riba?

 

Telah diketahui bersama bahwa riba dan apapun yang dihasilkan dari transaksi riba adalah haram.

 

Akan tetapi bagaimana jika kita diberi oleh seseorang yang kita tahu bahwa pekerjaan orang tersebut berkaitan dengan riba?

 

Bagaimanakah hukum menerima pemberian yang seperti ini?

 

Mengenai permasalahan ini, Imam Abdul Aziz bin Baz menyatakan,

 

“Jika engkau mengetahui dengan pasti bahwa hadiah atau hidangan yang diberikan kepadamu berasal dari harta yang dihasilkan dengan cara yang haram, maka jangan terima hadiah itu atau makan hidangan itu.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 22/330-331)

 

Akan tetapi, lanjut fatwa beliau,

 

“Jika harta mereka tercampur antara yang halal dan haram, tanpa ada kejelasan mana yang halal dan mana yang haram, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukum menerima hadiah atau memakan hidangannya.”

 

Ada yang berpendapat tetap mengharamkannya, sebagai cara kita untuk bersikap wara’ (hati-hati).

 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

“Sesungguhnya perkara yang halal dan perkara yang haram itu jelas. Diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat (tidak jelas kehalalannya dan keharamannya) yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari perkara-perkara syubhat maka sungguh dia telah berhati-hati dengan agama dan kehormatannya. Barangsiapa terjatuh dalam perkara syubhat maka hal itu akan menyeretnya terjatuh dalam perkara haram…” (Bukhari: 52, 2051 dan Muslim: 1599)

 

Pendapat lainnya menyatakan bahwa menerima pemberian dari harta yang tercampur halal dan haramnya adalah boleh.

 

Pendapat ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an,

 

“Dan sembelihan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) halal bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 5)

 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang yang terbiasa bertransaksi dengan sistem riba.

 

Begitu pula ketika seorang wanita Yahudi yang menghidangkan domba bakar kepada Rasulullah, dan Rasulullah memakannya.

 

“Bahwasanya seorang wanita Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seekor domba yang telah dibumbui racun , maka Rasulullah memakannya….” (Bukhari: 2617 dan Muslim: 2190)

 

Penjelasan lain disebutkan dalam hadits Sufyan Ats-Tsauri dari Abdullah bin Mas’ud,

 

“Bahwasanya seorang lelaki bertanya kepadanya dengan berkata: ‘Sesungguhnya aku mempunyai tetangga yang makan riba dan senantiasa mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Maka Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Nikmatnya untukmu dan dosanya atas dirinya’.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf no. 14675 dan dishahihkan oleh Imam Ahmad)

 

Namun Sufyan Ats-Tsauri berkata setelah meriwayatkan atsar ini:
“Jika engkau mengetahui secara persis bahwa yang dihidangkan kepadamu adalah hartanya yang haram, maka jangan engkau santap.”

 

Kesimpulannya,

 

bahwa berhati-hati dan menjaga diri dari hal-hal yang mengandung mudharat adalah sebuah tuntutan bagi seorang Muslim.

 

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

 

“Setiap daging yang yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas baginya.”(Diriwayatkan Imam Ahmad, Ath-Thabarani, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Al-Hakim serta yang lainnya dari Jabir bin Abdillah dan sahabat lainnya. Dishahihkan oleh Albani dalam Ash-Shahihah no. 2609)

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih