Hukum Mencampur Niat Ibadah dengan Niat Duniawi

 

Diantara kekeliruan yang terjadi di kalangan umat Islam adalah pendapat yang menyatakan bahwa suatu ibadah yang dicampur dengan hal-hal yang berkaitan dengan harapan-harapan keduniaan adalah suatu bentuk riya’,

 

dan ini jelas terlarang.

 

Akan tetapi pandangan ini dibantah oleh Imam Al-Qarafi rahimullah yang menjelaskan perbedaan antara riya’ dengan mencampur niat ibadah dengan harapan keduniaan.

 

Beliau mengatakan bahwa yang disebut riya’ itu adalah ia beramal dengan suatu amalan yang ia sebenarnya mengharapkan Allah,

 

namun juga mengharapkan sanjungan manusia. Ini disebut dengan riya’ syirik.

 

Adapun jika ia beribadah tanpa sama sekali mengharap Allah dan hanya ingin pengagungan dari manusia saja, maka ini dinamakan riya’ murni.

 

Sedangkan jika ia hanya sekedar mengharapkan dampak baik yang telah dijelaskan syariat, maka hal ini tidaklah merusak amalannya tersebut.

 

Seperti seseorang yang berjihad untuk mendapatkan ghanimah dengan seseorang yang berjihad agar orang-orang menjulukinya sebagai seorang pemberani atau mendapat penghormatan dari pemimpinnya.

 

Maka keduanya tentu berbeda.

 

Beberapa contoh yang bisa dikemukakan antara lain:

 

Sabda Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam,

 

“Obatilah orang-orang sakit diantara kalian dengan sedekah.” (Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhiib no 744)

Maka hadits ini bisa menjadi dasar bolehnya bersedekah dengan harapan kesembuhan untuk orang-orang terdekatnya.

 

Nabi juga pernah bersabda,

 

“Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi.” (Al-Bukhari: 2067 dan Muslim: 2557)

Hal ini menunjukkan bolehnya seseorang bersilaturahmi dengan niatan agar dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.

 

Begitu juga seseorang yang berpuasa dengan niatan agar sehat, orang yang berwudhu agar terlihat lebih segar, dan sebagainya.

 

Namun Imam Qarafi juga memberikan catatan,

 

“Seluruh harapan-harapan tersebut tidaklah terdapat pengagungan oleh makhluk, akan tetapi hanya pensyarikatan (percampuran) hal-hal maslahat yang tidak memiliki indra, dan tidak bisa memiliki indra (penglihatan) dan tidak layak untuk diagungkan. Maka hal ini tidaklah merusak keabsahan ibadah.

 

Dan benar bahwa harapan-harapan yang mencampuri niat ibadah ini bisa jadi mengurangi pahala ibadah. Ibadah yang tujuannya murni dan bersih dari tujuan-tujuan duniawi maka pahalanya lebih besar dan banyak. Adapun dosa dan batilnya ibadah tidaklah ada dalilnya.” (Al-Furuuq li Al-Qoroofi, tahqiq: Umar Hasan Al-Qiyyaam, Muassasah Ar-Risalah, cetakan pertama 3/10-12)

 

Sehingga ada perbedaan yang jelas antara riya’ dan sekedar mencampurkan niat.

 

Juga ada perbedaan yang jelas antara beribadah dengan niat karena Allah lalu ia mendapat kemashlahatan dunia (yaitu pahalanya tidak akan berkurang) dengan mereka yang sejak awal niatnya sudah tercampur dengan niat keduniaan, sehingga pahalanya berkurang. (Lihat Ihkaaml-Ahkaam karya Ibnu Daqiiq al-‘Ied hal. 492, tahqiq Mushthofa syaikh, terbitan Muassasah Ar-Risalah, cetakan pertama)

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih