Hukum Mengeraskan Bacaan Dzikir Setelah Shalat

 

Sebagian umat Islam biasa membaca dzikir setelah shalat dengan suara yang keras.

 

Sedangkan sebagian yang lain memilih untuk membaca dzikir dengan suara pelan dan nyaris tidak terdengar.

 

Apakah membaca dzikir dengan suara pelan ada tuntunan dari Rasulullah?

 

Atau apakah mengeraskan bacaan dzikir sesudah shalat pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

 

Sebenarnya masalah ini adalah masalah ijtihady, dan telah ada sejak masa ulama salaf.

 

***

 

Pendapat yang mengatakan berdzikir dengan suara keras itu disunnahkan didasarkan pada hadits Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa hal tersebut biasa dilakukan di masa Nabi.

 

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Saya mengetahui selesainya shalat Nabi dengan adanya suara takbir (yang dibaca keras).” (Bukhari 842 dan Muslim 583)

 

Hadits dari Mughirah bin Syu’bah juga menyebutkan bahwa ia mendengar Rasulullah selesai shalat membaca dzikir ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’i qadiir…’” (Bukhari dan Muslim 593)

 

Sementara mereka yang berpendapat bahwa sunnah berdzikir dengan suara pelan berdalil dengan ayat,

 

“Dan ingatlah Rabbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan sore…” (QS. Al-A’raf [7]: 205)

 

“Berdoalah kepada Rabb kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut (lirih, tidak keras)! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 55)

 

Sementara Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Kami bersama Nabi dalam sebuah perjalanan. Jika kami mendaki tempat yang tinggi, kami membaca tahlil dan takbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Wahai manusia, berlaku lemah lembutlah kepada diri kalian sendiri. Sebab kalian tidak berdoa kepada Tuhan yang tuli lagi jauh. Sesungguhnya Ia menyertai kalian, Ia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (HR. Bukhari no. 2992 dan Muslim no. 2704)

 

Hadits-hadits tentang hal ini sebagian besar tidak menunjukkan bahwa Rasulullah mengeraskan bacaan dzikir secara terus-menerus setiap kali selesai melaksanakan shalat. Beliau melakukannya hanya dalam hadits Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Mughirah saja.

 

Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa Nabi membaca dzikir dengan keras agar para sahabat mempelajarinya dari beliau. Dan hal ini tidak beliau lakukan terus-menerus. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, II/414 dan Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, III/451)

 

Kesimpulannya,

 

bahwa Rasulullah pernah berdzikir dengan suara keras dan dengan suara pelan. Maka kedua cara tersebut boleh dilakukan.

 

Wallahu a’lam

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?