Menjual Secara Kredit Barang yang Masih Dikredit

Dewasa ini, masyarakat kita seringkali dimanjakan dengan sistem kredit.

 

Bagaimana tidak, kita menikmati barang tersebut terlebih dahulu baru kemudian membayarnya secara perlahan-lahan.

 

Bagi masyarakat dengan ekonomi menengah, cara kredit ini dianggap sebagai cara yang lebih masuk akal, dibandingkan harus menabung dahulu,

 

lalu setelah terkumpul barulah dibelikan barang yang dimaksud.

 

Di dalam Islam tidak ada larangan bertransaksi secara kredit.

 

Namun bagaimana jika kita membeli barang secara kredit, akan tetapi sebelum barang tersebut lunas,
kita menjualnya kepada orang lain, secara kredit pula?

 

Misalnya si A membeli motor milik si B, secara kredit dengan jangka waktu 2 tahun.

 

Namun setelah dipakai selama 6 bulan, si A menjual motor tersebut kepada si C dengan cara kredit pula.

 

Bagaimana hukum atas transaksi ini?

 

***

 

Diantara syarat-syarat menjual barang di dalam Islam adalah:

 

Satu, barang itu telah dimiliki.

 

Jika barang tersebut belum kita miliki, maka haram untuk menjualnya, kecuali atas izin dari pemilik aslinya.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

 

“Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad 15705, Nasai 4630, Abu Daud 3505, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

 

Dua, barang itu telah dikuasai.

 

Barang yang sedang kita gadaikan, hakikatnya adalah barang yang kita miliki namun tidak kita kuasai.

 

Maka menjual barang seperti ini adalah dilarang.

 

Contoh lain adalah menjual barang yang belum tiba di tempat kita karena masih dalam proses pengiriman.

 

Mengenai hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

 

Siapa yang membeli makanan, maka jangan dia jual sampai dia menerimanya.

 

Ibnu Abbas menjelaskan hadis ini,

 

“Menurut saya, barang yang lain statusnya sama seperti makanan.” (HR. Muslim 3915).

 

Lalu dari sini timbul satu kaidah fiqih yang menyatakan bahwa,

 

“Perpindahan hak milik terjadi setelah akad, meski belum dibayar atau diserah-terimakan.”

 

Maka dari syarat-syarat ini, kita bisa menyimpulkan kasus jual-beli motor kredit di atas, sebagai berikut:

 

1. Ketika si A membeli dari si B, maka telah terjadi perpindahan hak milik. Meski pembayaran belum lunas.

 

2. Motor tersebut sudah dipakai selama 6 bulan. Ini berarti si A dianggap telah menguasai barang tersebut.

 

Karena kedua syarat telah terpenuhi, maka si A boleh menjualnya kepada si C, meski dengan cara kredit juga.

 

Wallahu a’lam.

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:
https://t.me/majelisensiklopedifiqih

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?