Sembilan Nafas Dalam Semenit

Sembilan Nafas Dalam Semenit

Seorang dokter bercerita kepadaku bahwa suatu hari ia masuk ke ruang ICU dan mendapatkan seorang syekh terkenal sedang terkulai di atas tempat tidur putih dengan wajah bersinar.

Lalu, dokter itu bercerita seperti ini: Aku buka catatan medisnya. Ternyata, ia baru saja selesai menjalani operasi lever dan banyak mengeluarkan darah hingga menyebabkan terhentinya aliran darah ke seberapa titik penting di otaknya. Bahkan, ia sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Terlihat, berbagai macam alat bantu kedokteran telah menempel di tubuh-nya. Dan salah satunya adalah sebuah alat yang dipasang di mulutnya untuk memberikan nafas bantuan yang membuatnya bisa bernafas 9 kali dalam semenit.

Saat itu, ia ditunggui oleh salah seorang anaknya. Aku pun bertanya kepada anak itu perihal keseharian ayahnya. Menurutnya, bapaknya adalah seorang muadzin di salah satu masjid sejak beberapa tahun yang lalu. Selesai mendengar keterangannya, aku melihat ke arah syekh itu. Aku gerakkan tangannya dan kemudian aku buka kedua matanya seraya mencoba mengajaknya ber­bicara. Akan tetapi, ia sama sekali belum sadar dan tidak bereaksi sedikit pun.

Kondisi syekh tersebut terlihat semakin kritis… Anaknya berusaha mengajaknya bicara. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga ayahnya yang tengah tak sadarkan diri itu seraya berkata, “Ayah…, ibu baik-baik saja di rumah, seluruh saudaraku juga dalam keadaan baik. Bahkan, paman telah kembali dari bepergian.” Demikianlah; anaknya terus ber­usaha mengajaknya bicara, tetapi syekh tersebut tetap tidak bereaksi sedikit pun. Sementara, alat pendeteksi nafas di samping syekh menunjukkan bahwa ia hanya bisa bernafas 9 kali dalam satu menit.

Sesaat kemudian, ketika si anak berkata, “Masjid sangat merindukanmu. Karena, hingga kini tidak ada seorangpun yang mengumandangkan adzan kecuali sifulan yang belum fasih benar dalam melafalkan adzan. Tempatmu di masjid masih kosong menantimu…”, dada syekh tersebut tiba-tiba terlihat ber­detak keras dan nafasnya mulai lancar. Saya melihat ke arah alat pendeteksi nafas. Sungguh menakjubkan; alat itu menunjukan bahwa syekh itu bisa bernafas 18 kali dalam semenit. Namun, kenyataan itu sama sekali tidak diketahui oleh anaknya.

Anak itu terus mencoba mengajak ayahnya berbicara “Anak paman telah menikah dan salah seorang saudaraku telah lulus, sekolah,” lanjut anaknya. Namun, saya lihat denyut nafas syekh itu justru berkurang dan kembali hanya 9 kali dalam semenit.

Melihat kejadian itu saya mencoba mendekatinya. Kemudian, saya menggerakan tangan dan kedua matanya. Bahkan, aku sempat menggoyangkan tubuhnya beberapa kali. Tetapi, syekh itu tetap dingin dan tidak ada reaksi sama sekali.

Namun, yang mengherankan adalah ketika saya mendekatkan mulut saya ke telinganya seraya me­ngucapkan kalimat adzan. Terlihat, alat pendeteksi nafas tiba-tiba menunjukkan 18 kali nafas dalam semenit.

Sungguh, Syekh ini termasuk golongan orang-orang yang hatinya terpaut di masjid. “Laki-laki yang tidak dilalai­kan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan peng­lihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS. An-Nuur: 37-38).

Sumber: Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arify, “Wa Ma Khalaqtu al-Jinna wal Insa illa Liya’buduni”.

Tags :
WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?