Imam Ahmad bin Hanbal – Rahimahullah-

SIKAP ULAMA IMAM 4 MAZHAB

Imam Ahmad bin Hanbal – Rahimahullah –

[space]

Imam Ahmad adalah imam yang paling banyak mengumpulkan hadits dan memiliki perhatian lebih kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam daripada imam-imam lainnya. Hingga beliau enggan menulis buku-buku yang hanya mengandung permasalahan furu’ dan ijtihad.

Beberapa perkataan beliau mengenai hal ini adalah:

“Jangan kalian bertaklid kepadaku. Jangan pula kalian bertaklid kepada Malik, Syafi’i, Al-Auza’ii dan Ats-Tsaurii. Akan tetapi ambillah dari sumber yang mereka ambil (yaitu hadits)”.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Jangan bertaklid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka. melainkan ambillah apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabat radhiallahu ‘anhum. Adapun dari para Tabi’in boleh dipilih”.

Suatu ketika beliau juga berkata:

“Definisi mengikuti yaitu mengikuti perkataan orang yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Shahabat-Shahabatnya serta para Tabi’in boleh dipilih”.

“Pendapat Al-Auza’ii, pendapat Malik, Pendapat Abu Hanifah semuanya hanyalah pendapat. Begitu juga pendapatku. Sesungguhnya hujjah hanyalah dari hadits dan atsar”.

“Siapa yang menolak hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dia berada diambang kehancuran”.

Demikianlah perkataan para Imam – Rahimahumullah – dalam hal berpegang teguh dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melarang bertaklid buta kepada mereka. Hal ini sangatlah jelas dan tidak perlu diperdebatkan.

Para Imam juga menyatakan bahwa apabila seseorang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berbagai permasalahan walaupun dia berbeda dengan pendapat-pendapat mereka, dia tidak ubahnya seperti orang yang mengikuti mazhab para imam tersebut dan tidak keluar dari jalan mereka. Seolah ia berpegang kepada tali kuat yang tak akan pernah putus.

Berbeda dengan keadaan orang yang meninggalkan as-Sunnah hanya karena berbeda dengan pendapat para Imam. Berarti dia melanggar perkataan para Imam itu sendiri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[1]

 

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.[2]

 

[1] Al-Qur`an Surat: An-Nisa’: 65
[2]Al-Qur`an Surat: An-Nur: 63

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?