Tentang Lomba Berhadiah

 

Sudah menjadi tradisi bahwa ketika ada momen-momen tertentu semisal perayaan hari kemerdekaan Indoensia atau hari jadi suatu kota, selalu diadakan berbagai macam event yang meriah.

 

Salah satu yang tidak pernah ditinggalkan adalah lomba Jalan Sehat atau lomba Sepeda Santai,
dengan hadiah yang beraneka ragam.

 

Namun agar bisa menjadi peserta di dalam lomba tersebut, setiap orang diwajibkan untuk membeli kupon yang telah disiapkan oleh panitia.

 

Nantinya, kupon tersebut akan diundi di akhir acara, dan pemilik nomor kupon yang muncul berhak untuk membawa pulang hadiahnya.

 

Maka menjadi sebuah persoalan kemudian bagaimana hukum dari acara-acara seperti ini?

 

Dalam kajian fiqih, sudah jelas bahwa acara-acara seperti ini memiliki kesamaan dengan judi.

 

Seseorang mengeluarkan sejumlah uang dengan harapan mendapatkan hasil yang jauh lebih besar,
melalui proses undian atau untung-untungan.

 

Ini adalah definisi dari judi.

 

Sedangkan “hasil lebih besar” yang diharapkan tadi adalah merupakan uang dari peserta lain yang dikumpulkan oleh panitia,

 

untuk diserahkan kepada dirinya sebagai pemenang undian.

 

Maka harta tersebut adalah harta orang lain yang ia makan secara zalim.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (najis), merupakan perilaku setan, maka jauhilah oleh kalian agar kalian beruntung.” (QS. Al-Maidah [5]: 90)

 

Wallahu a’lam.

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih