Waqaf, Pengertian dan Aturannya

Kita tentu sudah biasa mendengar istilah waqaf. Biasanya seseorang mewaqafkan tanahnya untuk dijadikan masjid atau sebuah lembaga pendidikan.

 

Tapi apa itu waqaf?

 

Dan apakah obyek waqaf itu boleh diperjual-belikan?

 

 

Secara bahasa, waqaf berarti “menahan”, atau bisa juga bermakna “mendermakan untuk kebaikan”.

 

Sedangkan secara ilmu fiqih, waqaf berarti (1) menahan harta yang bermanfaat dengan fisiknya yang tetap utuh, disertai dengan (2) memutuskan semua hak penguasaan terhadap harta tersebut dari siapapun (termasuk pemilik aslinya), (3) pada pemanfaatan yang mubah atau suatu kebaikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 10/291).

 

Karena penguasaan atas obyek waqaf tersebut sudah dilepaskan dari pemiliknya (dan siapapun), maka secara hukum asal obyek waqaf tidak boleh dijual, dihibahkan, diwariskan atau digadaikan.

 

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah mendapatkan tanah (rampasan perang) di negeri Khaibar. Kemudian Umar radhiallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah meminta pendapat beliau tentang harta tersebut.

 

“Umar bertanya: “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku mendapatkan harta rampasan perang yang belum pernah aku dapatkan yang lebih berharga daripada tanah di negeri Khaibar ini, maka apa yang engkau perintahkan kepadaku dalam hal ini?”

 

Maka Nabi mengatakan: “Kalau engkau mau, tahan pokok tanah itu, dan sedekahkan (manfaatkan kegunaannya)“.

 

Ibnu Umar rahimahumullah berkata, “kemudian Umar radhiallahu ‘anhu mewakafkannya dengan syarat tidak boleh dijual, dihibahkan, dan diwariskan. Dan beliau bershadaqah kepada orang fakir, kerabat, untuk memerdekakan budak, fi sabilillah, ibnu sabil dan para tamu. Tidak mengapa bagi orang yang mengelolanya mengambil atau memberi makan darinya dengan cara yang ma’ruf dan tidak menimbun (HR. Bukhari, No: 2737 dan Muslim, No: 1632)”

 

Akan tetapi dalam keadaan tertentu, dimana obyek waqaf sudah tidak bisa lagi digunakan dan akan menghilangkan manfaatnya,

 

misalnya karena hancur, rusak, terlalu sempit, dan sebagainya,

 

maka hakim atau pihak yang berwenang boleh menjualnya untuk digantikan dengan obyek lain yang semisal.

 

Wallahu a’lam.

 

==================

 

Sudah Punya Software Ensiklopedi Fiqih Belum?

>> Ensiklopedifiqih.com

 

Yuk Dukung Program Wakafnya Menjadi Sponsor dan Donatur.

>> Ensiklopedifiqih.com/CD-Gratis

 

Join Channel Telegram:

https://t.me/majelisensiklopedifiqih

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami
👋 Assalamu 'alaikum, Ada yang bisa Kami bantu?